Kenapa Harus Kata Di Amankan

sungguh mengherankan, sampai saat ini masih banyak wartawan media cetak maupun elektronik memakai kata diamankan hasil rekaao rezim orde baru yg tak jelas artinya. contohnya, "narkoba selundupan itu diamankan petugas" "tas yg diduga berisi bom diamankan polisi", "pencuri itu sudah diamankan"...timbul pertanyaan, diamankan dari apa atau siapa? Bukankah narkoba, bom, dan pencuri itu yg justru mengancam kemaanan banyak orang...??

kadangkala kata tersebut tampaknya dipakai untuk maksud disita, ditangkap, ditahan, diringkus, dikendalikan, tetapi kadang kala sukar dicerna nalar apa maksudnya, seperti dalam "ibu-ibu yg unjuk rasa di amankan petugas". Karena mereka bukan penjahat, tentu maksudnya bukan ditangkap, apalagi diringkus. Bukan pulan dibuat aman dari_ siapa tahu _ tingkah usil atau iseng kaum lelaki...jadi apa artinya? Mungkin maksudnya unjuk rasa mereka dipatahkan atau dibungkam petugas, tetapi alangkah jauh kolerasi arti tersebut dengan kata diamankan

salah satu ciri khas bahasa rekaan rezim orde baru adalah hilangnya fokus makna suatu kata atau ungkapan alias buyar bagai uap yg mustahil di tangkap dan di bentuk...padahal bahasa sebagai sistem komunikasi menuntut kejelasan, meski dalam puisi para seniman berusaha menciptakan nuansa dalam arti sebuah kata, lirik atau wacana tetap tersedia referensi logis bagi pembaca untuk digunakan merekonstruksi tafsir. Yg hendak digapai seniman dalam kreasinya adalah submilimasi bahasa yg setinggi-tingginya, sedangkan yg di ciptakan orde baru adalah pengaburan makna, lalu kabur dari masalah logika yg dimunculkan alias tinggal glanggang colong playu..

contoh yg lain adalah kata disesuaikan untuk harga barang kebutuhan pokok, yg maksudnya dinaikan..pertanyaan yg tak pernah terjawab untuk itu disesuaikan dengan apa? Dengan kondisi kantong rakyat, jelas, kontradiktif. Dengan keuangan negara mungkin saja, tetapi bagaimana bisa para pejabat tinggi dan kroninya mampu menimbun harta? Untunglah ungkapan itu sudah lenyap dari wacana pers sehingga tak pernah lagi di gunakan khalayak....

ungkapan yg khas juga milik penguasa orde baru adalah ajakan atau imbauan "mari kita ketatkan ikat pinggang" nyaris rutin setiap lima tahun begitu terpilih untuk kesekian kalinya sebagai penguasa mengucapkan kalimat senada dimuka umum. Dalam kenyataan imbauan itu tampaknya tak tertuju kepada dirinya sendiri beserta keluarga dan para punggawa. Jadi, ajakan mari dan kata ganti kita tidak valid lagi menurut makna yg kita sepakati

ada juga bahasa spanduk yg seragam di mana-mana_biasanya untuk memperingati hari-hari besar nasional dan keagamaan. "dengan semangat hari ini-itu kita tingkatkan ini-itu'' seperti biasa, ungkapan itu profan dan hampa makna. Tak ada bedanya dengan slogan ''katakan tidak pada korupsi'' yg di gembar-gembor partai yg berkuasa sekarang ini sebab lain di bibir lain di hati

0 Response to "Kenapa Harus Kata Di Amankan"

Posting Komentar